
Jakarta (Kemenag) - Ditjen Pesantren Kementerian Agama merekomendasikan kepada Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat untuk membekuan sementara aktivitas pondok pesantren Dar Et Tauhid, menyusul kejadian dugaan kekerasan seksual. Pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kepolisian Resor Metro Bekasi Kota.
“Kami sudah memberikan rekomendasi agar seluruh aktivitas kepesantrenan dan asrama Pondok Pesantren Dar Et Tauhid dihentikan hingga ditetapkan pengasuh pesantren pengganti yang lebih kapabel dan pesantren memiliki tata kelola perlindungan anak yang memadai,” terang Direktur Jenderal Pesantren, Basnang Said, di Jakarta, Minggu (18/10/2026).
Sehubungan dengan langkah pembekuan sementara, lanjut Basnang, pendidikan para santri tetap berjalan, melalui skema pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan skema lainnya yang memungkinkan. Menurut Basnang, saat ini santri Pesantren Dar Et-Tauhid sudah dipulangkan ke rumah masing-masing.
“Selama masa pembekuan sementara, kami memastikan hak pendidikan seluruh santri tetap terpenuhi, misalnya melalui PJJ. Kami juga minta kepada Kanwil Kemenag Provinsi untuk memfasilitasi perpindahan para santri ke satuan pendidikan lain atas permintaan orang tua/wali masing-masing,” tegas Basnang.
Direktur Pemberdayaan Pesantren, Yusi Damayanti, menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan sejumlah langkah penanganan. Kemenag berkoordinasi dengan Yayasan Perguruan Islam Dar Et Tauhid agar menetapkan pengasuh pesantren pengganti. Pengasuh yang dipilih harus memiliki kapabilitas pengetahuan keagamaan dan perilaku keagamaan yang baik, serta komitmen atas perlindungan anak.

“Pengasuh pengganti tidak memiliki konflik kepentingan terhadap proses hukum yang sedang berjalan. Penetapan pengasuh akan dilakukan dengan verifikasi Kantor Kementerian Agama Kota Bekasi dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, dengan melibatkan FKPP dan MUI Kota Bekasi,” sebut Yusi Damayanti.
“Kami juga minta agar pengasuh pesantren dan pendidik maupun tenaga kependidikan yang terlibat dalam perbuatan asusila yang mencoreng entitas pesantren sebagai lembaga moral keagamaan diberhentikan dari jabatan dan tugasnya. Pihak yang telah ditetapkan sebagai tersangka dinonaktifkan seketika dari seluruh tugas dan tidak diperkenankan berinteraksi dengan santri selama proses hukum berjalan serta tidak diperkenankan tinggal dalam lingkungan pondok pesantren,” sambungnya.
Sebelum aktivitas pesantren dibuka kembali, kata Yusi Damayanti, pesantren wajib memiliki tata kelola pelindungan anak yang disertai dokumen dan komitmen perlindungan anak dari kekerasan fisik maupun seksual. Dokumen itu antara lain berupa:
a. kebijakan dan SOP pencegahan serta penanganan kekerasan yang mengacu pada PMA Nomor 73 Tahun 2022 dan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 1262 Tahun 2024;
b. pakta integritas perlindungan anak yang ditandatangani pengasuh, pengurus yayasan, serta seluruh pendidik dan tenaga kependidikan;
c. kode etik interaksi antara pendidik, pengasuh, dan santri;
d. tim pencegahan dan penanganan kekerasan di tingkat pesantren;
e. mekanisme pengaduan yang aman, mudah diakses, dan menjamin kerahasiaan pelapor;
f. penataan asrama dan sistem pengawasan yang meniadakan ruang tertutup yang rentan terjadinya kekerasan.
“Kami juga minta Kemenag Jabar dan Kantor Kemenag Kota Bekasi untuk memberi perhatian pada pemulihan korban, bersinergi dengan DP3A/UPTD PPA dan PUSPAGA Kota Bekasi,” tandasnya. (Fadhil Al-Makassary)
Editor: Moh Khoeron
|
5x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...