
Suka Jaya (MTsN 1 Bungo) - Praktik membuat ragam hias pada kain dengan teknik Shibori telah sukses dilaksanakan oleh seluruh siswa-siswi Kelas VII MTsN 1 Bungo dalam pelajaran Seni Budaya pada pekan ini. Setelah melewati proses mengikat, mencelup, dan akhirnya membuka ikatan, wajah-wajah para siswa tampak ceria, memamerkan hasil karya mereka yang unik dan penuh kejutan.
Teknik Shibori, yang berfokus pada manipulasi kain sebelum pewarnaan, ternyata memberikan pengalaman belajar yang tak terlupakan.

Tiga Kesan Paling Berkesan dari Siswa:
1. Momen Penuh Misteri: Hasil yang Tak Terduga
Salah satu daya tarik Shibori adalah hasil akhirnya yang sering kali mengejutkan, tidak selalu sesuai dengan perkiraan awal.
"Awalnya saya kira saya membuat motif lingkaran biasa, tapi pas dibuka, polanya jadi seperti ledakan bintang! Itu seru banget. Proses mengikatnya memang capek, tapi terbayar lunas pas lihat hasilnya. Kayak buka kotak misteri," ujar Ilham dari Kelas VII B.
2. Belajar Tentang Proses dan Kesabaran
Proses Shibori memerlukan ketekunan, mulai dari memastikan ikatan kencang agar pewarna tidak merembes, hingga waktu pencelupan yang pas.
"Saya belajar sabar di sini. Waktu nunggu kainnya kering itu terasa lama sekali. Kami diajarkan kalau mau hasil yang bagus, tidak bisa buru-buru. Ini beda jauh sama cuma menggambar di buku. Ini seni yang butuh tenaga dan waktu," kata Sizi, siswa Kelas VII C.
3. Menumbuhkan Kreativitas dan Apresiasi Seni
Bagi banyak siswa, praktik ini membuka wawasan baru tentang bagaimana sebuah kain sederhana bisa diubah menjadi karya seni yang indah hanya dengan teknik pengikatan.
"Saya jadi lebih menghargai batik dan kain bermotif lainnya, karena ternyata prosesnya ribet. Kalau di Shibori, kita bisa bebas banget mau melipat seperti apa dan dicelupkan ke pewarna sesuai yang kita inginkan." tutup Melanda dari Kelas VII A, yang berencana mengaplikasikan teknik ini pada tote bag miliknya.

Membuka Wawasan Seni Kriya
Praktik ini juga berhasil menumbuhkan apresiasi siswa terhadap seni kriya dan budaya tradisional, baik Jepang maupun Indonesia. Guru Seni Budaya, Ibu Devinal, menyatakan kegembiraannya melihat respons positif ini. "Tujuan utama praktik ini tercapai, yaitu membuat anak-anak mencintai seni melalui pengalaman langsung. Mereka sekarang lebih menghargai kain bermotif karena tahu betapa rumit proses pembuatannya," tuturnya.
Melalui kegiatan ini, siswa-siswi Kelas VII MTsN 1 Bungo tidak hanya mendapatkan nilai pelajaran, tetapi juga kenangan berharga tentang bagaimana menciptakan keindahan dari selembar kain putih, membuktikan bahwa belajar Seni Budaya bisa sangat seru, interaktif, dan penuh kejutan.
Sumber : Tim HUMAS
Penulis : Dc
Editor : Sa
|
555x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...