
Suka Jaya (MTsN 1 Bungo) – Gema lagu "Indonesia Pusaka" terdengar syahdu dari ruang kelas VIIA MTsN 1 Bungo, pada Rabu (10/9) pagi. Para siswa tidak sedang berlatih untuk upacara, melainkan memulai pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan sebuah apersepsi yang menggugah jiwa nasionalisme. Inisiatif ini digagas oleh guru IPS, Devinal Chusnul Chotimah, S.Pd., sebagai cara jitu untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air sekaligus membuka gerbang pemahaman materi tentang kondisi wilayah Indonesia.
Devi meyakini bahwa sebelum mempelajari seluk-beluk letak astronomis, geografis, dan geologis Indonesia. “siswa perlu merasakan terlebih dahulu keagungan dan kekayaan negeri ini. Lagu 'Indonesia Pusaka' memiliki lirik yang sangat kuat untuk menggambarkan betapa istimewanya negara kita. Ini menjadi fondasi emosional yang kuat sebelum mereka masuk ke materi yang lebih teknis," ujarnya.
Metode ini terbukti efektif menarik perhatian siswa. Setelah menyanyikan lagu dengan khidmat, suasana kelas menjadi lebih kondusif untuk diskusi yang mendalam, menghubungkan setiap bait lagu dengan konsep-konsep inti geografi.
Proses pembelajaran menjadi sebuah perjalanan interaktif yang mengungkap kekayaan Indonesia:
1. Letak Geografis dan Kebanggaan Maritim: Lirik "Indonesia sejak dulu kala, tetap dipuja-puja bangsa" menjadi titik awal diskusi tentang letak geografis Indonesia yang strategis. Devi menjelaskan bagaimana posisi silang di antara dua benua (Asia dan Australia) dan dua samudra (Hindia dan Pasifik) telah menjadikan Indonesia sebagai jalur perdagangan penting sejak zaman kerajaan kuno. Hal ini menjelaskan mengapa Indonesia selalu menjadi pusat perhatian bangsa-bangsa lain.
2. Letak Astronomis dan Kekayaan Alam: Bait "Di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda" digunakan untuk merefleksikan anugerah alam yang melimpah. Ibu Devi mengaitkannya dengan letak astronomis Indonesia yang berada di garis khatulistiwa. "Iklim tropis yang kita miliki sepanjang tahun adalah 'buaian bunda' yang menumbuhkan ribuan jenis flora dan fauna, menjadikan kita sebagai negara megabiodiversitas," jelasnya kepada para siswa.
3. Letak Geologis dan Tanah yang Subur: Lirik "Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata" diinterpretasikan sebagai tanah air yang memberikan penghidupan. Konsep ini kemudian dihubungkan dengan letak geologis Indonesia. "Tanah kita subur karena kita berada di jalur 'Cincin Api Pasifik'. Gunung-gunung berapi yang tampak gagah itulah yang memberikan kesuburan luar biasa bagi pertanian kita, memberikan kita makan dari generasi ke generasi," terang Ibu Devi.

Metode apersepsi ini mendapat sambutan hangat dari para siswa. Annisa, salah seorang siswi, merasa pelajaran menjadi jauh lebih bermakna. "Saya jadi merinding saat menyanyikan lagu tadi sambil membayangkan betapa hebatnya Indonesia. Ternyata, semua kekayaan alam yang kita miliki ada penjelasannya secara ilmiah. Belajar IPS jadi tidak membosankan," ujarnya dengan antusias.
Dengan memadukan seni musik dan ilmu pengetahuan sosial, Devi selaku guru IPS telah menciptakan sebuah pengalaman belajar yang holistik. Siswa tidak hanya menghafal fakta, tetapi juga membangun koneksi emosional dengan materi yang dipelajari. Inovasi ini membuktikan bahwa pendidikan karakter dan penanaman rasa cinta tanah air dapat berjalan beriringan dengan pencapaian target kurikulum akademik.
Sumber : Tim HUMAS
Penulis : Dv
Editor : Sa
|
285x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...