
Nagekeo (Kemenag) - Masjid Agung Baiturrahman di Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi tempat warga mengamankan diri sekaligus pusat aktivitas keagamaan setelah gempa mengguncang wilayah Flores pada 15 Agustus 2026.
Pengurus Masjid Agung Baiturrahman Nagekeo, Muhammad Fauzan Nasir, mengatakan, halaman masjid yang luas dimanfaatkan warga untuk berkumpul dan mendirikan posko pengungsian. Warga memilih masjid sebagai tempat berlindung karena panik setelah gempa disusul kenaikan air laut.
“Memang waktu itu semua masyarakat sudah dalam ketakutan. Keluarga sudah saling berpisah. Karena ketakutan masyarakat di sini, air tsunami itu naik, sehingga sebagian masyarakat lari ke bukit-bukit. Alhamdulillah, karena masjid ini punya halaman yang luas, masyarakat mencoba mengamankan diri mereka di tempat ini,” ujar Fauzan saat diwawancarai, Sabtu (22/8/2026), di Nagekeo, NTT.

Gempa juga menyebabkan kerusakan berat pada bangunan Masjid Agung Baiturrahman. Meski demikian, masyarakat Nagekeo tetap saling membantu menghadapi dampak bencana. “Kita bisa lihat, di dekat kita juga ada masjid besar, Masjid Agung, yang rusak berat akibat guncangan gempa. Tapi alhamdulillah sampai saat ini kami masyarakat, khususnya Kabupaten Nagekeo, tetap saling support satu sama lain. Saling menguatkan bahwa musibah bencana ini adalah bencana kita semua,” katanya.
Di tengah kondisi tersebut, bantuan dari masyarakat dan sejumlah lembaga turut mendukung penyediaan tempat ibadah sementara. Masjid darurat dibangun di area masjid sehingga warga terdampak tetap dapat melaksanakan salat lima waktu secara berjemaah.
“Masjid ini sudah bisa kita tempati untuk melaksanakan salat lima waktu. Orang-orang dermawan kemudian masuk memberikan bantuan kepada kami. Alhamdulillah, meringankan beban kami di saat duka,” ujar Fauzan.
Menurut Fauzan, keberadaan masjid darurat sangat membantu warga terdampak bencana. Selain menjadi tempat ibadah, kawasan masjid menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh dukungan dan bantuan kebutuhan sehari-hari. “Ketika mereka tertimpa musibah, masih ada tempat, masih ada orang-orang baik yang kemudian memperhatikan mereka,” tuturnya.
Bantuan juga diberikan dalam bentuk kebutuhan pangan. Sejumlah donatur membantu memenuhi kebutuhan makan warga terdampak, termasuk makan siang dan makan malam.
Kepala Subdirektorat Kemasjidan Ditjen Bimas Islam, Nurul Badruttamam, mengatakan keberadaan masjid dalam situasi bencana menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang perlindungan dan penguatan masyarakat.
“Alhamdulillah, masjid tetap memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam situasi bencana seperti ini. Masjid menjadi tempat masyarakat berkumpul, beribadah, sekaligus mendapatkan dukungan dan penguatan,” ujarnya.
Fungsi sosial masjid tersebut sejalan dengan pandangan Menteri Agama Nasaruddin Umar. Menag mengatakan, fungsi masjid perlu terus diperluas sebagai pusat pemberdayaan masyarakat agar memberikan manfaat nyata bagi kehidupan sosial dan kemanusiaan.
Nurul berharap, masjid darurat tersebut terus memberikan manfaat bagi masyarakat Nagekeo selama masa pemulihan pascabencana. “Kita berharap masjid ini menjadi tempat yang memberikan ketenangan dan kekuatan bagi masyarakat. Semoga masyarakat Nagekeo dan seluruh warga Flores yang terdampak bencana diberikan ketabahan dan segera dapat bangkit kembali,” kata Nurul.
Sumber : Humas Kemenag RI
Kontributor : Humas MTsN 1 Bungo
|
23x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...