
Jakarta (Kemenag) --- Kementerian Agama terus memperkuat pengembangan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai pendekatan pendidikan agama yang menanamkan kasih sayang, toleransi, dan kepedulian terhadap lingkungan. Kurikulum ini diarahkan agar pembelajaran agama tidak hanya berhenti pada pengetahuan, tetapi juga membentuk sikap peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, pendidikan agama perlu menghadirkan pemahaman yang menumbuhkan kedekatan umat dengan ajaran agamanya masing-masing. Menurutnya, pemahaman agama yang utuh semestinya memperkuat kepedulian, penghargaan terhadap sesama, dan tanggung jawab terhadap alam.
“Target jangka panjang kami adalah bagaimana semua umat beragama semakin dekat dan lengket dengan ajaran agamanya masing-masing. Semakin dalam seseorang memahami agamanya, maka ia akan semakin toleran dan penuh cinta kasih terhadap sesama,” kata Menag Nasaruddin Umar pada saat menjadi narasumber Podcast Open The Door di Jakarta yang tayang pada Minggu (19/7/2026).
Menag menjelaskan, KBC dikembangkan untuk menanamkan nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, makhluk hidup, dan lingkungan. Nilai tersebut menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama dalam memperkuat pendidikan agama yang humanis, moderat, dan relevan dengan kehidupan masyarakat.
Menurut Menag, pendidikan berbasis cinta juga penting untuk membangun kesadaran peserta didik terhadap kelestarian alam. Ia menilai, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan dan keagamaan yang perlu dikenalkan sejak dini melalui proses pendidikan.
“Pemanfaatan alam boleh dilakukan, tetapi tidak boleh melampaui batas kewajaran dan daya dukungnya. Eksploitasi yang merusak lingkungan harus dicegah,” ujar Menag.
Menag menambahkan, ajaran agama pada prinsipnya memuat pesan moral untuk mencegah kerusakan dan penggunaan sumber daya alam secara berlebihan. Pesan tersebut perlu diperkuat dalam pembelajaran agar peserta didik memahami pentingnya menjaga kehidupan, menghargai sesama makhluk, dan memperlakukan lingkungan secara bertanggung jawab.
Kementerian Agama juga mencatat adanya respons positif dari sejumlah pengawas pendidikan terhadap pengembangan KBC. Dalam pertemuan bersama pengawas pendidikan dari berbagai daerah di Bandung, para pengawas menyampaikan sejumlah pengalaman awal yang menunjukkan bahwa pendekatan ini dinilai membantu memperkuat suasana pembelajaran yang lebih humanis, harmonis, dan menghargai perbedaan.
Menag menegaskan, kedalaman dalam memahami agama semestinya memperkuat toleransi dan kepedulian, bukan memperlebar jarak antarmasyarakat. “Saya yakin, semakin kita mendalami agama masing-masing, kita akan semakin toleran satu sama lain. Semua agama mengajarkan cinta kepada manusia, makhluk hidup, dan alam,” tuturnya.
Melalui penguatan KBC, Kementerian Agama berupaya menghadirkan pendidikan agama yang membentuk karakter peserta didik secara utuh. Kurikulum ini diharapkan dapat mendorong lahirnya generasi yang berakhlak, menghargai perbedaan, peduli terhadap sesama, serta bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Sumber : Kementerian Agama RI
Editor : M Rusydi Sani
Fotografer : Akmalul Iman
Kontributor : Tim Humas MTsN 1 Bungo
|
7x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...