
Suka Jaya ( MTsN 1 Bungo) - Di tengah rutinitas pembiasan pagi, para guru dan tenaga pendidikan di MTsN 1 Bungo tampak berkumpul di halaman madrasah. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terlihat dari percakapan mereka, yang ternyata merupakan diskusi rutin namun santai antara guru senior dan guru muda. Bukan membahas hal yang berat, mereka justru berbagi pengalaman dan sudut pandang dari generasi yang berbeda. (4/10)
"Dulu, metode mengajar kami mungkin tidak sefleksibel sekarang," ujar Pak Afriwal, S.Ag. seorang guru senior yang telah mengabdi lebih dari 31 tahun. "Anak-anak zaman dulu lebih nurut, tidak banyak tanya. Sekarang, murid-murid lebih kritis dan melek teknologi. Ini tantangan baru."
Ucapan Pak Afriwal tersebut diiyakan Pak Shafwan Ananda, S.Pd. guru muda yang mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia. "Betul sekali, Pak. Saya sering memanfaatkan video tutorial atau podcast untuk menjelaskan materi. Anak-anak jadi lebih tertarik. Tapi terkadang ada juga yang fokusnya jadi terpecah karena terlalu banyak gadget."

Pak Afriwal menanggapi dengan bijak, "Nah, di situlah peran kita sebagai guru. Teknologi itu alat, bukan segalanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa tetap menanamkan nilai-nilai kebaikan dan akhlak mulia. Ini yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi."
Diskusi ini tidak hanya membahas metode pengajaran, tetapi juga soal adaptasi terhadap perubahan zaman. Para guru muda berbagi tips tentang pemanfaatan aplikasi edukasi dan media sosial untuk pembelajaran, sementara para guru senior mengingatkan tentang pentingnya sentuhan personal dan kedekatan emosional dengan murid.
Di sisi lain, Ibu Satri Hidayati, S.Ag., juga berbagi pengalaman bersama Pak Firdaus dan Ibu Fitra. Salah satu momen paling menarik adalah saat membahas penanganan siswa yang 'bandel'. Bu Satri menceritakan pengalamannya menghadapi siswa yang nakal dengan pendekatan kekeluargaan, sementara pak Fir dan Bu Fitra berbagi pengalamannya dengan pendekatan psikologis modern. Keduanya saling melengkapi dan menemukan titik temu, bahwa pendekatan hati tetap menjadi kunci.
"Kolaborasi ini sangat penting bagi kami," kata Kepala Madrasah, Bapak Khairul Fahmi, S.Pd.I saat ditemui disela-sela diskusi. "Guru senior membawa pengalaman dan nilai-nilai luhur yang tidak lekang dimakan zaman, sementara guru muda membawa inovasi dan semangat baru. Keduanya saling melengkapi untuk kemajuan madrasah."
Diskusi santai ini membuktikan bahwa perbedaan generasi dalam dunia pendidikan bukanlah sebuah hambatan, melainkan kekayaan. Dengan saling berbagi, mereka membangun sinergi yang kuat, memastikan bahwa pendidikan di MTsN 1 Bungo tidak hanya relevan dengan perkembangan zaman, tetapi juga tetap berpegang teguh pada nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan.
Sumber : Tim HUMAS
Penulis : Rd
Editor : Dc
|
688x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...