
Suka Jaya (MTsN 1 Bungo) – Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) di MTsN 1 Bungo hari ini tampak berbeda. Jika biasanya materi Kerajaan Islam di Jawa disampaikan melalui ceramah dan buku teks, kali ini guru mata pelajaran, Padilah, S.Ag., mengajak siswa untuk menerapkan metode wawancara teman sebaya. (24/9)
Metode ini mengharuskan siswa bekerja dalam kelompok, di mana setiap kelompok bertugas mewawancarai kelompok lain mengenai salah satu kerajaan Islam yang telah ditentukan. Misalnya, satu kelompok mendapatkan tugas untuk mendalami Kerajaan Demak, sementara kelompok lain fokus pada Kerajaan Pajang, Mataram, atau Cirebon.
"Tujuannya adalah agar siswa tidak hanya menghafal, tetapi juga aktif mencari tahu, berdiskusi, dan memahami materi secara lebih mendalam," jelas Padilah. "Dengan wawancara ini, mereka harus menyusun pertanyaan, mendengarkan jawaban, dan menyimpulkan informasi yang mereka peroleh." Tambahnya.
Salah satu siswa, Annisa, mengaku sangat menikmati metode ini. "Rasanya seperti sedang menjadi reporter sungguhan," ujarnya sambil tersenyum. "Kami jadi lebih mudah mengingat nama-nama raja dan peristiwanya karena kami sendiri yang bertanya dan menjawab." Hal senada diungkapkan oleh Ikhsan. "Saya jadi tahu banyak hal tentang Kerajaan Mataram Islam dari wawancara dengan kelompok lain. Ini lebih seru daripada cuma baca buku."
Melalui metode ini, siswa ditantang untuk menjadi sumber informasi bagi teman-temannya. Mereka harus menguasai materi yang menjadi tugasnya agar dapat memberikan jawaban yang akurat saat diwawancarai. Sebaliknya, mereka juga harus kritis dalam menyusun pertanyaan untuk mendapatkan informasi yang lengkap dari kelompok lain.
Di akhir pembelajaran, setiap kelompok mempresentasikan hasil wawancaranya. Mereka tidak hanya menyampaikan fakta, tetapi juga menceritakan pengalaman seru selama proses wawancara. Bu Padilah berharap, metode ini dapat diterapkan secara berkelanjutan untuk materi lainnya.
"Metode wawancara teman sebaya ini terbukti efektif meningkatkan partisipasi, kemampuan komunikasi, dan pemahaman konsep siswa," pungkas Padilah. "Ini adalah langkah kecil untuk membuat sejarah menjadi pelajaran yang hidup dan menyenangkan."ujar beliau.
Sumber : Tim Humas
Penulis : Padilah
Editor : Devinal
|
429x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...