Selamat Datang di Website Resmi MTSN 1 Bungo # #PENGUMUMAN# READY FOR APRIL 2026, TKA DAN UJIAN MADRASAH! # Selamat Datang di Website Resmi MTsN 1 Bungo # ASSALAMUALAIKUM, HALO SAHABAT MADTSANESA BUNGO, KUNJUNGI TERUS WEBSITE KITA YA! # Kunjungi terus website kami MTsN 1 Bungo
Diposting Pada: Selasa, 29 April 2025

Menyambut Hari Bumi ke-55, MTsN 1 Bungo Ikut Menyukseskan Program “Penanaman 1 Juta Pohon Matoa”

Menyambut Hari Bumi ke-55, MTsN 1 Bungo Ikut Menyukseskan Program “Penanaman 1 Juta Pohon Matoa”

Suka Jaya (MTsN 1 Bungo) – Selasa,22 April 2025, MTsN 1 Bungo ikut menyukseskan Program Kementerian Agama RI dalam bingkai: “Gerakan Penanaman 1 Juta Pohon Matoa” serentak di seluruh Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Bumi ke-55.

Kegiatan ini bertepatan dengan peringatan Hari Bumi ke-55 pada Selasa, 22 April 2025, sebagai bentuk dukungan terhadap program ekoteologi dan komitmen madrasah dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Mengapa Harus Matoa?

Di antara hamparan pohon yang tumbuh subur di bumi Nusantara, mengapa justru pohon ini yang dipilih, yang diangkat, seolah mewakili sebuah harapan? Jawabannya tidak sekadar terletak pada manisnya rasa buah atau eksotisme bentuknya yang memikat mata. Lebih dari itu, Matoa menyimpan filosofi dan potensi besar dalam membangun masa depan yang lebih hijau dan berkelanjutan.



Pohon Matoa (pometia pinnata) adalah tanaman asli Papua yang telah lama tumbuh dan berkembang dalam ekosistem tropis Indonesia Timur. Tingginya bisa mencapai 18 meter, dengan tajuk yang rindang dan akar yang kuat. Secara ekologis, matoa memiliki kemampuan istimewa: ia dapat menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar, menghasilkan oksigen, mencegah erosi, dan memperbaiki kualitas tanah.

Matoa bukan hanya pohon, tapi simbol ketangguhan. Matoa dapat tumbuh hampir di seluruh wilayah Nusantara, dari tanah Aceh hingga Merauke. Kemampuannya bertahan dalam cuaca ekstrem menjadikannya metafora tentang harapan: bahwa kehidupan bisa bertunas bahkan di kondisi yang genting.

Di balik rimbun daunnya yang tenang dan ketangguhan ekologis, Matoa menyimpan denyut kehidupan yang lebih dari sekadar hijau. Ia bukan hanya penjaga harmoni alam, tetapi juga penjaga harapan manusia. Buahnya pun memiliki cita rasa yang tak lazim, seolah memadukan manisnya lengkeng dengan aroma menggoda durian, menyapa lidah dengan percaya diri. Ia membawa peluang, membuka jalan bagi tumbuhnya ekonomi lokal yang bersandar pada alam, bukan dengan perusakan. Sementara kayunya, kokoh namun ringan, siap diolah menjadi karya: dari konstruksi sederhana hingga kerajinan tangan yang menyimpan jejak budaya dan ketekunan.





Tak sekadar tegak di antara rerimbun hutan, Matoa adalah warisan hayati bangsa. Di tengah ekspansi industri yang terus menggusur batas-batas alam, melestarikan pohon endemik seperti matoa adalah tindakan menyulam kembali jalinan kearifan lokal yang nyaris pudar. Seperti diungkapkan Muhibuddin, Kasubdit Bina Kelembagaan dan Kerja Sama Zakat dan Wakaf Kemenag, “Menanam Matoa berarti merawat akar budaya dan ekologis kita sendiri.”

Gerakan ini bukan hanya aksi ekologis. Ia adalah laku spiritual. Dalam Konferensi Pers Asta Protas 2025–2029, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan bahwa agama harus hadir sebagai kekuatan moral dalam merawat bumi. Pemikiran ini sejalan dengan gagasan Seyyed Hossein Nasr, filsuf muslim terkemuka, yang menyebut alam sebagai theophany—manifestasi kehadiran Tuhan—yang tak boleh disakiti. Dalam Islam, manusia ditunjuk sebagai khalifah, yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan, bukan mengeksploitasi alam semaunya.

Penanaman sejuta pohon Matoa yang dicanangkan Kemenag, serta gerakan yang selama ini dijalankan para aktivis lingkungan menegaskan bahwa alam bukan sekadar tempat untuk memuaskan kebutuhan, melainkan sahabat sejiwa yang layak didengar, dijaga, dan dicintai tanpa syarat. Dalam relasi yang seimbang, alam tidak diperlakukan sebagai objek, melainkan sebagai mitra hidup yang tumbuh bersama manusia dalam irama kasih dan tanggung jawab.

Gerakan ini menyasar titik-titik strategis di seluruh Indonesia: dari masjid, gereja, pura, vihara, dan klenteng, hingga madrasah, pesantren, dan kantor-kantor Kemenag. Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan melakukan penanaman simbolis sebagai penegasan bahwa negara hadir dalam upaya merawat lingkungan.



Tak berhenti di sana, Kemenag juga bekerja sama dengan Badan Wakaf Indonesia (BWI) dan MOSAIC (Muslims for Shared Action on Climate Impact) untuk mengembangkan konsep Green Waqf—wakaf hijau berbasis konservasi lingkungan. Sebuah Gala Dinner dan penggalangan dana bakal digelar pada 22 April malam, demi mendanai pengembangan Green Waqf sebagai upaya penghijauan berkelanjutan.

Konsep wakaf ekologis ini dinilai strategis. Selain menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir, wakaf hijau juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi kepada masyarakat sekitar. Dengan prinsip ESG (Environmental, Social and Governance), wakaf yang menjaga alam dapat sekaligus mendukung penyejahteraan masyarakat sekitar. (sumber: Bimas Islam Kemenag RI)

Penanaman bibit matoa di MTsN 1 Bungo ditanam langsung oleh Kepala MTsN 1 Bungo, Khairul Fahmi, S.Pd.I., dengan didampingi oleh Ka-Ur TU MTsN 1 Bungo, Mahdalena, S.Pd.I., dan GTK.

Kepala MTsN 1 Bungo menyambut baik program ini. "Program penanaman satu juta pohon matoa merupakan program cinta kepada lingkungan dan pada bumi kita yang digagas oleh kementerian agama Republik Indonesia sebagaimana yang disampaikan oleh pak menteri agama bahwa pohon matoa merupakan pohon buah-buahan yang bisa hidup dari wilayah timur Indonesia sampai ke ujung barat Indonesia.“ pungkasnya. (sa)

 


870x
Dibaca

Berita Lainnya:

  1. Para Siswi MTsN 1 Bungo Dapatkan Kapsul Tambah Darah: Upaya Pencegahan Anemia Remaja 247x dibaca
  2. Foto Bersama Jadi Penutup Indah PKKM 2025 MTsN 1 Bungo, Tanda Kebersamaan dan Kesuksesan 370x dibaca
  3. Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar MTsN 1 Bungo Hadiri Syukuran Kelahiran Putra Pak Andi Kustian 305x dibaca
  4. Penilaian Harian Bahasa Arab Dilaksanakan Hari Ini 322x dibaca
  5. Ikuti Materi Maharatul Kitabah, Siswa Kelas 8 Cermati Arahan Guru Mapel 420x dibaca

Go Back To Home

Jadwal Sholat

Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya

Memuat tanggal...

Imsak--:--
Subuh--:--
Terbit--:--
Dhuha--:--
Dzuhur--:--
Ashar--:--
Maghrib--:--
Isya--:--

Peta Lokasi MTSN 1 Bungo

Mars Madrasah